SEJARAH

Pada mulanya TN Berbak berstatus sebagai Suaka Margasatwa Berbak yang ditetapkan
berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 18 tanggal 29
Oktober 1935 dengan luas 190.000 ha. Selanjutnya kawasan ini ditunjuk sebagai Taman
Nasional Berbak dengan luas 162.700 ha berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 285/Kpts-II/1992 26 Februari 1992. Hingga tahun 1997 kawasan ini dikelola di
bawah Sub Balai Konservasi Sumberdaya Alam Jambi.

Dalam perkembangan selanjutnya Taman Nasional Berbak ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) sendiri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 185/Kpts-II/1997 tanggal 31 Maret 1997 dan pada tahun 2015 Taman Nasional Berbak ditetapan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : SK.4649/Menlhk-PKTL/KUH/2015 tanggal 26 Oktober 2015 dengan luas 141.261,94 ha

Kawasan TN Sembilang ini didasarkan pada rekomendasi Gubernur Provinsi Sumatera
Selatan melalui surat Gubernur No 522/5459/BAPPEDA-IV/1998, dan Surat Keputusan
Menteri Kehutanan No. 76/Kpts-II/2001 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi
Sumatera Selatan tanggal 15 Maret 2001, yang didalamnya tercantum penunjukan kawasan Sembilang menjadi Taman Nasional. Kemudian ditindaklanjuti oleh Gubernur Provinsi Sumatera Selatan melalui Surat Gubernur No 522/5128/I tanggal 23 Oktober 2001 untuk meminta penetapan kawasan Taman Nasional Sembilang dengan luas 205.750 ha.

Berdasarkan Perda Provinsi Sumatera Selatan Nomor 5 tahun 1994 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), kawasan seluas 205.750 ha yang ditunjuk sebagai Taman
Nasional ini merupakan penggabungan dari kawasan Suaka Margasatwa (SM) Terusan Dalam (29.250 ha), Hutan Suaka Alam (HSA) Sembilang seluas 113.173 ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) Sungai Terusan Dalam seluas 45.500 ha dan kawasan perairan seluas 17.827 ha. Penilaian potensi yang dilakukan oleh Ditjen Bangda Departemen Dalam Negeri, bekerjasama dengan Ditjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Departemen Kehutanan tahun 1996/1997, juga menyimpulkan bahwa kawasan Sembilang memenuhi kriteria sebagai Kawasan Pelestarian Alam dengan bentuk Taman Nasional. Sehingga berdasarkan usulan, kajian dan rekomendasi tersebut, Kawasan Sembilang kemudian ditetapkan sebagai kawasan hutan tetap dengan fungsi hutan konservasi sebagai Taman Nasional, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 95/Kpts-II/2003 tanggal 19 Maret 2003, dengan luas 202.896.31 ha.


VISI DAN MISI

A. VISI
Menjadi institusi yang terdepan dalam konservasi ekosistem rawa gambut sebagai
habitat pelestarian harimau sumatera

B. MISI
Misi Taman Nasional Berbak dan Sembilang adalah :
1. Meningkatkan perlindungan dan pengamanan kawasan ekosistem rawa gambut.
Misi tersebut bertujuan menurunkan gangguan keamanan kawasan dari aktivitas
illegal logging, pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,
perburuan liar serta aktivitas perambahan kawasan.
2. Meningkatkan pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya serta wisata
edukatif. Misi tersebut bertujuan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna terutama
species terancam punah harimau sumatera dan dan jenis tumbuhan serta satwa
endemik lainnya.
3. Membangun sinergi dengan stakeholder dalam pengelolaan TN Berbak. Dengan
tujuan untuk mendukung pengelolaan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya
dalam bidang perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan.
4. Meningkatkan perlindungan dan penyerapan karbon di kawasan Berbak.
5. Meningkatkan kapasitas kelembagaan TN Berbak dalam upaya mewujudkan tata
kelola pemerintahan yang baik.